Catatan 32 tahun
Jam empat pagi sekeluarnya dari ruang editing. Masih tersisa hawa dingin setelah 8 jam di ruangan bersuhu 17 derajat dan binar-binar footages yang tak tentu arah di kepala. Setahun berlalu, tiga puluh dua tahun telah lewat. Selama itu, selalu ada keyakinan yang sulit dijabarkan, bila dipaksa.., akan segera keluar kata-kata gombal yang akrab dan fasih diucapkan. Kalimat gombal dan cliche itu terkadang juga menyenangkan. Menjabarkan keyakinan tidaklah penting, yang menentukan dan memperkaya hidup adalah proses dan pengalaman dalam menjalani keyakinan itu.
Hingga saat ini, gue memilih untuk menjadi freelance. Kalau ditanya freelance di bidang apa, sering kali gue agak sulit untuk menjawabnya. Dari urusan mendisain buku, penulis skenario, riset, asisten sutradara, sampai jadi post director (kerjaan yang nggak gue sangka sebelumnya). Bicara keyakinan (hehehe balik lagi ), lucunya pekerjaan freelance itu nggak pernah gue anggap sebagai pekerjaan utama gue. Dalam berbagai aplikasi resmi yang harus gue isi.., gue selalu menuliskan pekerjaan gue sebagai programmer film / peneliti film di Yayasan Konfiden. Kenapa soal kerjaan berurusan dengan keyakinan? Karena buat sebagian orang, salah satunya adalah gue, pekerjaan adalah identitas diri yang kita yakini sebagai bagian dari diri kita, bukan sekadar sekumpulan tindakan yang menghasilkan uang. Identitas pekerjaan tidak muncul begitu saja tetapi melalui proses yang panjang. Pekerjaan berupa sekumpulan tindakan disadari, dilakukan dengan komitmen penuh (bahasa kerennya, sepenuh hati) dan uang bukanlah tujuan utama. Umumnya pekerjaan seperti ini tidak mengenal kata pensiun.., kata akhir hanya ada ketika gue mati atau memilih bentuk lain karena sudah menemukan kemapanan dalam pekerjaan yang sedang dijalani. Gue menikmati semua proses dalam hidup gue.
Inilah ranah pekerjaan yang gue idam-idamkan sejak kecil. Keyakinan yang membuat gue nggak terlalu peduli sama perkembangan politik di republik keparat ini.
Dini hari menyusuri aspal hitam dalam perjalanan dari Radio Dalam sebagai freelance (terkadang kita menyebutnya pecun industri kreatif) menuju Cilandak Bawah tempat Konfiden bermarkas untuk melakukan beberapa Pekerjaan sebelum pulang ke haribaan istri tercinta, terlintas dalam pikiran gue.., I choose the hard way not the easy way, and i know exactly that i still step in right direction. Thanks buat semuanya.

