May 16, 2007

Catatan 32 tahun

Jam empat pagi sekeluarnya dari ruang editing. Masih tersisa hawa dingin setelah 8 jam di ruangan bersuhu 17 derajat dan binar-binar footages yang tak tentu arah di kepala. Setahun berlalu, tiga puluh dua tahun telah lewat. Selama itu, selalu ada keyakinan yang sulit dijabarkan, bila dipaksa.., akan segera keluar kata-kata gombal yang akrab dan fasih diucapkan. Kalimat gombal dan cliche itu terkadang juga menyenangkan.  Menjabarkan keyakinan tidaklah penting, yang menentukan dan memperkaya hidup adalah proses dan pengalaman dalam menjalani keyakinan itu.

Hingga saat ini, gue memilih untuk menjadi freelance. Kalau ditanya freelance di bidang apa, sering kali gue agak sulit untuk menjawabnya. Dari urusan mendisain buku, penulis skenario, riset, asisten sutradara, sampai jadi post director (kerjaan yang nggak gue sangka sebelumnya).  Bicara  keyakinan (hehehe balik lagi ), lucunya pekerjaan freelance itu nggak pernah gue anggap sebagai pekerjaan utama gue. Dalam berbagai aplikasi resmi yang harus gue isi.., gue selalu menuliskan pekerjaan gue sebagai programmer film / peneliti film di Yayasan Konfiden. Kenapa soal kerjaan berurusan dengan keyakinan? Karena buat sebagian orang, salah satunya adalah gue, pekerjaan adalah identitas diri yang kita yakini sebagai bagian dari diri kita, bukan sekadar sekumpulan tindakan yang menghasilkan uang. Identitas pekerjaan tidak muncul begitu saja tetapi melalui proses yang panjang. Pekerjaan berupa sekumpulan tindakan disadari, dilakukan dengan komitmen penuh (bahasa kerennya, sepenuh hati) dan uang bukanlah tujuan utama. Umumnya pekerjaan seperti ini tidak mengenal kata pensiun.., kata akhir hanya ada ketika gue mati atau memilih bentuk lain karena sudah menemukan kemapanan dalam pekerjaan yang sedang dijalani. Gue menikmati semua proses dalam hidup gue.

Inilah ranah pekerjaan yang gue idam-idamkan sejak kecil. Keyakinan yang membuat gue nggak terlalu peduli sama perkembangan politik di republik keparat ini.

Dini hari menyusuri aspal hitam dalam perjalanan dari Radio Dalam sebagai freelance (terkadang kita menyebutnya pecun industri kreatif) menuju Cilandak Bawah tempat Konfiden bermarkas untuk melakukan beberapa Pekerjaan sebelum pulang ke haribaan istri tercinta, terlintas dalam pikiran gue.., I choose the hard way not the easy way, and i know exactly that i still step in right direction. Thanks buat semuanya.

October 04, 2005

Marah menjelang sahur

Saat mencoba untuk tidur sepulangnya dari kantor..., gue mengalami kesulitan untuk masuk ke alam tanpa sadar. Berkali-kali bayangan tentang orang-orang berjanggut, bersurban dan meneriakkan nama-nama tuhan untuk menghancurkan sesuatu atau milik orang lain terus menghantam pikiran. Terus terang gambaran itu akhir-akhir ini memenuhi diri gue dengan perasaan jengkel, kesal, marah dan murka. Hal yang udah ngak bisa dimaafkan dan ditolerir. Gue ngak tahu apakah ini ada hubungannya dengan kejadian bom bali kemarin lalu itu, atau sudah menjadi konstruksi di kepala gue bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan  (seperti bom dan bentuk-bentuk pengrusakan tempat-tempat ibadat dan publik) di negeri ini ada sangkut pautnya dengan kelompok garis keras agama (beberapa kejadian memang sudah pasti mereka yang melakukannya).

Dan saat ini, setelah sahur dan gagal untuk tidur.., kekesalan itu masih tersisa. Apakah masih ada orang-orang waras di negara ini? Gue cuma pengen tahu itu.., karena negara ini atau tepatnya pemerintah negara ini emang udah ngak waras!!!! Sori kalau marah-marah..., yah cuma di sini kan kita bisa gini..., atau ada tempat lain?

September 15, 2005

pekerjaan

Memang bukan lagi menjelang pagi..., tapi berhubung saya belum tidur...jadi masih sah untuk sedikit berbagi catatan. Baru saja sebuah laporan berhasil diselesaikan setelah sempat terselip dengan berbagai pekerjaan lain, pekerjaan yang sudah mulai disusun sejak akhir bulan april itu sudah ter-binding dan siap dikirim. Ini pekerjaan saya yang benar-benar selesai sejak bulan maret yang lalu...oleh karena itu masih banyak utang pekerjaan lain yang antri dibelakang...termasuk beberapa utang pekerjaan kepada beberapa teman, termasuk teman-teman di konfiden...untuk mereka ini...hiks..hiks..hiks..sorry...

next..

Mudah-mudahan film-nya mas Tim Burton masih beredar di Jakarta. Saya udah janji untuk pergi nonton sama Rani (my busy sweetheart), tapi belum juga terlaksana.

Pekerjaan..., saya termasuk sedikit orang yang beruntung, mengerjakan sesuatu yang saya senangi (it's not doing a job.., it's working my project, our project), bekerja bersama teman-teman yang menyenangkan dan menjadi bagian dari diri saya sendiri, di tempat yang menyenangkan ditemani juga dengan sekumpulan hamster dan seekor russian husky yang manja, lenin namanya.

I am so exciting...

next..

September 08, 2005

sekedar lewat

Saat ini.., bukan lagi menjelang pagi, tetapi memang sudah pagi, dan saya belum juga mengantuk. Beberapa hari ini, sebuah laporan yang sedang kami buat akhirnya menuju selesai setelah pengerjaannya yang memakan waktu selama dua bulan. Sebuah laporan yang terdiri dari berlembar-lembar pemaparan pelaksanaan, evaluasi, analisis, dan penyusunan rekomendasi dari berbagai kegiatan. Seluruh kegiatan yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh siapapun di Indonesia (pembuatan visual proposal dan workshop film untuk masyarakat adat), kegiatan yang dilakukan seiring dengan pengembangan pijakan konseptual (landasan teoritis) dan teknis. Laporan yang juga menyertakan pengantar teori dan metodologi tentang kegiatan tersebut agar dapat dilakukan juga oleh siapapun. Nah.., semua itu ditambah pula dengan laporan keuangannya. Jadinya sebuah laporan lengkap untuk kegiatan yang secara teknis baru berlansung selama sebelas bulan.

Tapi ngak cuma itu aja.., salah satunya ya..., membuat pusat dokumentasi. Kerjaan besar yang selalu dianggap kecil, kerjaan yang memakan waktu dan mencakup data yang luas dan banyak, sesuatu yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk melakukan pendalaman, pengkajian tentang identitas kita sendiri, dan supaya kita ngak tergantung sama para bule yang selalu ingin menentukan jalan terbaik yang harus kita jalani, supaya penulisan sejarah kita ngak tergantung sama bule, supaya kalau kita ini mempelajari atau sekedar tahu aja ngak perlu jauh-jauh ke luar negeri, agar semua yang kita miliki ngak berakhir menjadi onggokan sampah yang dipungut orang yang satu waktu kita harus membayarnya untuk hanya sekedar membacanya.

Sebenarnya sih kerjaan tokoh di tengah negara yang orang-orangnya ngak peduli sama pentingnya data, negara yang kelas menengahnya lebih peduli sama keglamoran media massa, tempat kebanyakan kelas menengah intelektualnya yang celebrating mediocrity. Poor me

September 07, 2005

Bienalle, menyenangkan tapi was-was

Satu CP Bienalle akhirnya dibuka hari senin yang lalu. Saya sangat antusias untuk menikmati pameran seni rupa yang hanya berlangsung dua tahun sekali itu. Ini kegiatan festivalnya seni rupa, tempat semua karya terbaik (tentunya yang lolos dari tim kurasi) yang dihasilkan para perupa dalam dan luar negeri dalam waktu dua tahun ini. Walaupun begitu, menghadiri saat pembukaan memang bukanlah saat yang tepat untuk benar-benar menikmati karya apa pun karena begitu hiruk pikuknya tempat pameran. Saya termasuk orang yang tidak bisa menikmati seni apa pun dalam suasana yang hiruk pikuk atau ramai gaduh, termasuk seks.

Dan memang terbukti ketika kemudian saya hadir di acara pembukaan Bienalle karena menemani sang istri yang terlibat sebagai editor katalog selain juga memberi selamat pada Pak Jim Supangat, orang yang membuat bienalle bisa ada lagi dan memberi porsi untuk anak-anak muda. Gedung BI penuh yang lebih dari 50 % pengunjungnya adalah anak-anak muda yang usianya kira-kira di bawah 30, dan 35 % di bawah 50. Udara malam pembukaan itu dipenuhi dengan aura kebebasan, penolakan atas apa pun, liar yang sekaligus sentimentil, dan pengukuhan tentang eksistensi diri dan kelompok peer group. Suasana menyenangkan, menghirup kegairahan, dan semangat meletup-letup mengingatkan saya pada acara festival Konfiden (FFVII) beberapa tahun yang lalu.

Rasa waswas menghinggapi diri saya saat berhadapan dengan kenyataan bahwa karya-karya anak muda (terutama yang terfokus di lantai 1) tak ubahnya counter sebuah perusahaan yang menjajakan produknya. Yang lebih parah adalah menempatkan sesuatu yang diproduksi secara  massal (mass product) sebagai art (thank's to alex, telah mengingatkan saya atas hal itu).Entahlah... sulit juga untuk melabelkannya.., komentar pertama saya adalah instan.., budaya instan. (itu dulu kayanya nih.. udah ngatuk.. yah namanya juga catatan menjelang pagi).

August 30, 2005

Tak bisakah waktu berhenti

pagi retak berbekas luka
malam rekat berlalu duka
akankah segalanya berkait gundah
akankah segalanya berakhir tiada

tak bisakah kita sejenak terlelap
menikmati waktu berhenti
sekedar menghisap sebatang rokok
tanpa khawatir pagi menyergap
tanpa rasa waswas malam menjerat

August 25, 2005

pagi dan dunia

pagi buta
jalanan hitam
sunyi memampat
tersesat di bejana hampa

saat pagi menduda
karena malam tiada
terekat di balik langit kelabu
dan dendam...dan dendam

pagi dan dunia
mendekap malam
meniadakan resah
dan cinta...dan gundah

July 26, 2005

jangan bosen

Kenapa yah.., banyak hal yang dibuat untuk publik tidak dikerjakan dengan seluruh kemampuan, sepenuh hati, ketelitian, kepedulian untuk hasil yang terbaik. Atau dengan kata lain, sebuah totalitas dalam berkarya. Kita merasakan itu pada urusan apapun, dari kebijakan publik sampai pertunjukkan seni.

Banyak hal-hal besar disepelekan dan hal-hal kecil dibesar-besarkan. Kenapa yah.., seperti sekarang ini.., film Indonesia lagi banyak diproduksi bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Thank's to young people, thank's to independent movement. Tapi yah gitu deh.., orang tua.., pemilik modal.., atau pemerintah cuma bisa memanfaatkannya untuk kepentingan sesaat, dari urusan cari nama, alias pahlawan kesiangan sampai mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu singkat bukan dengan mengeksplorasi daya kreatif tetapi mengeksploitasi kebimbangan, trend dan icon yang popular dikalangan remaja, dengan biaya sekecil-kecilnya.

Kalangan swasta juga ngak mau berinvestasi untuk hal yang serius dan eksplorasi kreatif yang dikerjakan secara sungguh-sungguh untuk hasil dengan kualitas yang lebih baik dan terus membaik. Yang ada dipikiran mereka cuma rating atau dampak pada tingkat penjualan atau konsumsi barang dagangan aja. Akhirnya bikin film sama bikin pertunjukkan udah seperti kencing aja, kalau udah kebelet.., bisa dibuang dimana aja. (pengecualian buat film-filmnya Riri...)

Pemerintah? Yaaa.., negara para raja jawa.., apa sih yang bisa dan sudah dilakukan sama raja jawa kalau bukan menindas rakyatnya (menggusur, membodohi, memukuli, menembak, memajaki, memelihara milisi dan preman, mengkorupsi hasil pajak dan dana bantuan, serta lain sebagainya). Mudah-mudahan gerakan independen ngak mati, mudah-mudahan pada ngak bosen.., bosen karena tidak bisa menopang hidupnya padahal semuanya perlu ongkos (dan jatuhnya yang bisa berkegiatan secara leluasa cuma orang-orang kaya aja), bosen karena juga terus-terusan ditolak sponsor dan funding, bosen karena dikerjain sama badan-badan pemerintah dan lain-lain.

jangan bosen aja deh pokoknya (berlaku hanya untuk orang-orang dan komunitas yang bergerak di dunia independen). Kalau untuk pemerintah.., kok ngak bosen jadi tempat kumpulan orang-orang picik dan goblok. Please deh.., tolol kan ada batesnya.

July 22, 2005

in the name of silence

in the name of silence
revolution will become
without anger and hate
and the force be with us

entah hendak berkata apa

di ujung hijau
biru tersisa
kuning menghilang
malam menjerat

saat duduk ditepian
menatap hitam putih di dasar dunia
entah hendak berkata apa
pada kelabu di ujung tiada